Selasa, 02 Juni 2009

Sejarah Mu'tazilah

BAB I
A.SUASANA LAHIRNYA ALIRAN THEOLOGI MU’TAZILAH.
Aliran Mu’tazilah adalah aliran theology islam terbesar dan tertua yang lahir sekitar pada permulaan abad pertama hijriyah di sebuah kota yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu dan peradaban islam yaitu kota basrah di irak.pada waktu itu banyak orang orang yg ingin menghancurkan islam dari segi aqidah,baik dari mereka yg menamakan dirinya islam ataupun tidak.
Seperti yang kita ketahui bersama,sejak islam meluas banyak bangsa bangsa yg masuk islam dan hidup di bawah naungannya.akan tetapi tidak semua yg memeluk islam memeluknya dg ikhlas.ketidak ikhlasan itu terutama dimulai sejak permulaan khilafah umawi yg memonopoli kekuasaan negara kepada orang islam dan bangsa arab sendiri.sehingga tindakan mereka tsb menimbulkan kebencian terhadap bangsa arab dan menyebabkan keinginan untuk menghancurkan islam itu sendiri,mengingat islam merupakan sumber kejayaan dan kekuatan mereka baik dari segi fisik ataupun psikis.
Diantara lawan lawan islam adalah golongan Tasawwuf hulul(inkarnasi) yg mempecayai bertempatnya tuhan pada manusia.Aliran mu’tazilah menjawab bahwa tuhan tidak mungkin mengambil tempat pada apapun juga.dalam demikian muncullah aliran mu’tazilah yang kemudian berkembang dg pesatnya serta mempunyai metode dan faham sendiri.
Kalau kita simpulkan dari pemaparan di atas bahwa kelahiran aliran mu’tazilah untuk memback up islam yang ingin di hancurkan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab.

B. ASAL USUL SEBUTAN MU’TAZILAH.
Secara harfiyah kata mu’tazilah berasal dari kata I’tazala yang berarti berpisah atau memisahkan diri yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri dan atau menyalahi pendapat orang lain.secara teknis penyebutan istilah mu’tazilah,ada dalam beberapa versi,antara lain :
1.di sebut mu’tazilah karena wasil bin atha’ dan ‘amar bin ‘ubaid menjauhkan diri dari pengajian hasan basri di masjid basrah dan kemudian membentuk majlis ta’lim sendiri sebagai kelanjutan dari pendapatnya bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak mukmin lengkap juga tidak kafir lengkapmelainkan berada di antara dua tempat tersebut(al manzilatu bainal manzilataini).dengan adanya peristiwa tersebut,hasan basri berkata “ wasil menjauhkan diri dari kita (I’tazaala anna)”.sehingga mereka di sebut golongan mu’tazilah.jadi penyebutan mu’tazilah menurut versi ini secara lahiriyah yaitu pemisahan fisik atau menjauhkan diri dari tempat duduk orang lain.
2.di sebut mu’tazilah karena mereka berbeda pendapat dengan golongan murji’ah dan golongan khawarij tentang tahkim atau pemberian status bagi orang yang melakukan dosa besar.golongan murji’ah berpendapat bahwa pelaku dosa besar masih termasuk orang mukmin,sedang menurut golongan khawarij peleku dosa besar menjadi kafir dan menurut hasan basri ia menjadi orang munafik.datanglah wasil bin atha’ yg mengatakan bahwa pelaku dosa besar bukan mukmin bukan pula kafir,melainkan fasik jadi penyebutan mu’tazilah menurut versi yang kedua ini adalah secara ma’nawiyah yaitu menyalahi pendapat orang laen.
3.di sebut mu’tazilah karena pendapat mereka bahwa orang yang melakukan dosa besar berarti dia telah menjauhkan diri dari golongan orang mukmin dan orang kafir.yang berarti juga bahwa istilah mu’tazilah itu menjadi sifat bagi pelaku dosa besar tersebut yang kemudian menjadi nama/sifat bagi golongan yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar menyendiri dari orang orang mukmin dan orang kafir.
4.menurut ahmad amin,nama mu’tazilah sebenarnya telah ada sebelum peristiwa wasil dan hasan basri.nama mu’tazilah diberikan kepada orang yang tidak mau berintervensi dalam oertikaian politik yang terjadi pada masa usman bin affan dan ali bin abi thalib.ia menjumpai pertikain disana:satu golongan mengikuti pertikaian tersebut sedang satu golongan yang lain menjauhkan diri ke kharbitha.oleh karena itu,dalam surat yang di kirimnya ke ali bin abi thalib,qais menamai golongan yang menjauh diri tersebut dengan nama mu’taziliin,sedang abu fida menamainya dengan mu’tazilah
Dari pemaparan di atas bisa kita simpulkan bahwa pada dasarnya pemberian nama mu’tazilah pada suatu golongan,karena perbedaan pendapat mereka dalam masalah tahkim atau pemberian status terhadap pelaku dosa besar yang pada akhirnya golongan mu’tazilah juga berperan besar dalam memback up islam dari musuh musuhnya yang ingin menghancurkannya.walaupun pada hakikatnya istilah mu’tazilah telah ada sejak sebelum peristiwa wasil bin atha’.
BAB II
A.TOKOH TOKOH ALIRAN MU’TAZILAH
Tokoh tokoh mu’tazilah sangat banyak sekali jumlahnya dan masing masing tokoh mempunyai pikiran dan ajaran ajaran sendiri yang berbeda dengan tokoh sebelumnya ataupun pada masanya.di antara tokoh tokoh aliran mu’tazilah antara lain :
1.WASIL BIN ATHA’ ( 80-131 H/699-748 M)
Lengkapnya Wasil bin Atha’ al Ghazzal,beliau terkenal sebagai pendiri aliran mu’zilah dan kepalanya yang pertama beliau pulalah yang meletakkan lima prinsip ajaran mu’tazilah.
2.AL- ALLAF ( 135-226 H/752-840 M)
Namanya Abdul Huzail Muhammad bin al Huzail al Allaf.beliau merupakan murid dari Usama at Tawil,murid Wasil.puncak kebesarannya terjadi pda msa al Ma’mun.dalam suatu riwayat di sebutkan bahwa ada sekitar 3000 orang yang masuk islam di tangannya hal itu di karenakan hidupnya penuh dangan perdebatan dg orang orang zindiq,skeptik,majusi,zoroaster,dll.
3.AN-NAZZHAM ( wafat 231 H/845 M )
Lengkapnya Ibrahim bin Sayyar Bin Hani an Nazzham,beliau murid dari Al Allaf ,beliau juga merupakan tokoh terkemuka yang fasih bicaranya dan terkean mempunyai otak yang cerdas.dimana beberapa pemikirannya telah mendahului masanya,antara lain tentang methode of doubt dan empirika yang menjadi dasar renaissance di eropa..
4.AL JUBBA’IE ( wafat 303 H/915 M )
Nama lengkapnya Abu Ali Muhammad bin Ali al Jubba’ie,beliau murid dari as Syahham ( wafat 267 H/885 M )yang juga tokoh mu’tazilah.beliau juga guru dari Imam Asy’ary,tokoh utam alira al Asy’ariyah.
5.BISJR bin AL MU’TAMIR ( wafat 226 H/840 M )
Beliau adalah pendiri aliran mu’tazilah bagdad.pandangannya tentang kesusasteraan menimbulkan dugaan bahwa dialah oaring yang pertama mengadakan ilmu balaghah.diantara murid muridnya yang besar pengaruhnya dalam penyebaran aliran mu’tazilah di bagdad adalah Abu Musa Al Mudar,Tsumamah bin al Asyras,dan Ahmad bin Abi Fu’ad.
6.Az ZAMAIHSYARI ( 467-538 H / 1075-1144 M )
Namanya jar Allah Abul Qosim Muhammad bin Umar kelahiran Zamachsyar,sebuah dusun di negri Chawarazm,Iran.pada diri beliau terkumpul karya aliran mu’tazilah selama kurang lebih empat abad.beliau juga menjadi tokoh dalam ilmu nahwu,tafsir dan paramasastera(lexicology) seperti yang dapat kita lihat dalam kitab Al Kassyaf,Al Faiq dll.

BAB III
A.AJARAN AJARAN POKOK ALIRAN MU’TAZILAH
Aliran mu’tazilah berdiri atas lima prinsip utama yang juga di kenal Al Ushul Al Khamsah yang di urut menurut kepentingan dan kedudukannya.kelima ajaran dasar pokok tersebut adalah :

1 Keesaan ( Tauhid )
At Tauhid merupakan prinsip utama dan inti sari dalam ajaran mu’tazilah.walau sebenarnya setiap madzhab teologis dalam islam memegang doktrin ini,namun bagi mu’tazilah tauhid memiliki arti yang spesifik.Tuhan harus di sucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-Nya.Tuhanlah satu satunya yang esa,tak ada satupun yang menyamai-Nya.boleh jadi apa yng menyebabkan mereka mempetahankan Keesaan itu semurni murninya ialah karena mereka menghadapi golongan syi’ah rafidahyang extrem dan yang menggambarkan tuhan dalam bentuk yang berjism dan bisa di indera,di samping golongan golongan agam dualisme dan trinitas.
Untuk memurnikan keesaan tuhan,mu’tazilah menolak konsep tuhan yang memiliki sifat sifat,penggambaran fisik tuhan(antromorfisme tajassum),dan tuhan dapat di lihat dengan mata kepala.mu’tazilah berpendapat bahwa tuhan itu esa,tak ada satupun yang menyamai-Nya.Dia maha melihat,mendengar,kuasa,dll. Namun mendengar,melihat dan kuasa tuhan bukan sifat tapi dzat-Nya.menurut mereka sifat adalah sesuatu yang melekat.jadi bila sifat tuhan yang qadim,berarti ada dua yang qadim.
Imam Asy’ari dalam bukunya Maqalatul Islamiyyin mengutip tafsir tentang keesaan yang di berikan oleh aliran mu’tazilah sebagai berikut :
Allah Yang Esa / Tidak sesuatu yang menyamai-Nya / Bukan jism/
Bukan pribadi(syachs)/Bukan jauhar(subtance)/Bukan aradh (non essential property)/Tiada berlaku zaman atas-Nya/Tiada tempat bagi-Nya/pada-Nya tiada sifat makhluk yang berindikasi non azali/Tiada batas bagi-Nya/Bukan ayah tiada menganakkan/Bukan anak tiada lahirkan/mustahil diindera/mustahil ada makhluk yang menyamai-Nya/tiada terlihat mata kepala/Tiada dicapai penglihatan/mustahil dipikir dan diterka/sesuatu bukan seperti segala sesuatu/Maha tahu/Maha kuasa/Maha hidup/tetapi,bukan seperti orang tahu/bukan seperti orang berkuasa/bukan seperti oaring hidup/Ia Qadim semata/tiada yang qadim selain-Nya/tiada tuhan selain-Nya/tiada pembantu bagi-Nya dalam menciptakan/tiada teladan bagi ciptaan-Nya.
Dari kutipan tersebut bisa kita simpulkan antara lain:
• Aliran mu’tazilah mengenal pikiran pikiran filsafat serta memakai beberapa istilahnya,antara lain jauhar,aradh,syachs,dll
• Dengan perkataan Tiada yang menyamai-Nya,mereka menolak pikiran pikiran golongan antropomoohist dan membuka lebar lebar pintu takwil terhadap ayat al qur’an yang menyifati tuhan dg sifat manusia dg takwil majazi.
• Dengan keesaan yang mutlak,mereka menolak konsep agama dualisme dan trinitas tentang tuhan
• Dengan perkataan tiada pembantu bagi-Nya dlm menciptakan dan tiada teladan bagi-Nya,mereka menolak teori Idea dari plato dan demiurge,jg teori emanasi dan triads yang di anggap menguasai alam semesta ini oleh aliran Neo Platonisme,yaitu tuhan,logos dan world souls.

2.Keadilan tuhan ( Al ‘Adlu)
ajaran dasar mu’tazilah yang ke dua adalah Al Adlu,keadilan tuhan,yang berarti tuhan maha adil.Adil ini merupakan sifat yang paling gambling untuk menunjukkan kemaha sempurnaan,karena tuhan maha sempurna,dia pasti adil.dan semua orang percaya akan hal itu tetapi mu’tazilah memperdalam arti keadilan serta menentukan batas batasnya,sehingga menimbulkan beberapa persoalan.
Dasar keadilan yasng di pegangi mereka ialah meletakkan pertanggungan jawab manusia atas segala perbuatannya.dalam menafsirkan keadilan mereka berkata :
“Tuhan tidak menghendaki keburukan,tidak menciptakan perbuatan manusia.manusia bisa mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya,dg kodrat (kekuasaan ) yang di jadikan oleh tuhan pada diri mereka.Ia hanya memerintahkan apa yang dikehendaki-Nya.Ia hanya menguasai kebaikan kebaikan yang diperintahkan-Nya dan tidak campur tangan dengan keburukan yg d larang-Nya
sehingga kelanjutan dari prinsip tersebut bisa di tarik benang merah yg antara lain:
• Tuhan menciptakan manusia atas dasar tujuan dan hikmah
• Tuhan tidak menghendaki keburukan dan tidak oula memerintahkannya
• Manusia punya kesanggupan untuk mewujudkan perbuatan perbuatannya,sehingga dengan demikian dapat dipahami ada perintah perintah tuhan,janji dan ancamanNya,pengutusan rosul rosul,tiada kedzaliman pada tuhan.
• Tuhan harus dan mesti mengerjakan yang baik dan yang terbaik karena itu merupakan kewajiban tuhan untuk menciptakan,memerintahkan manusia serta membangkitkannya kembali.

3.Janji dan Ancaman (Al Wa’du wal Wa’id )
Ajaran dasar yang ketiga dalam aliran mu’tazilah adalah tentang janji dan ancaman tuhan ( Al Wa’du wal Wa’id ).prinsip ini sangat erat hubungannya dengan keadilan tuhan.prinsip ini kelanjutan dari prinsip yang kedua yaitu tentang keadilan tuhan.yang artinya aliran mu’tazilah yakin bahwa tuhan yang maha adil dan maha bijaksana tidak akan melanggar janji-Nya,yaitu janji akan memberikan pahala bagi orang yang berbuat baik dan janji akan menjatuhkan siksaan bagi orang yang durhaka pada-Nya.
Ini sesuai dengan prinsip keadilan tuhan.jelasnya siapa yang berbuat baik akan di balas dengan kebaikan pula.begitu pula sebaliknya siapa yang berbuat ma’siat maka akan di balas dengan siksaan yang pedih.dengan kata lain barang siapa yang keluar dari dunia dengan segala ketaatan dan penuh taubat,ia berhak atas pahal yang di janjikan tuhan.dan siapa yang keluar dari dunia tanpa taubat dari dosa besar,maka ia akan di abadikan di neraka walau lebih ringan siksaannya dari orang kafir
Pendirian ini kebalikan dari pendapat golongan murji’ah yang mengatakan bahwa kema’siatan tidak mempengaruhi iman kalau pendirian ini di benarkan,maka ancaman tuhan tidak akan ada artinya.karena itulah golongan mu’tazilah mengingkari adanya syafaat pada hari kiamat,dengan mengenyampingkan ayat ayat yang menetapkan adanya syafi’at ( baca Al Baqarah ayat 254 dan 45 ),karena menurut mereka hal itu bertentangan dengan prinsip janji dan ancaman tuhan.

4.DIANTARA DUA TEMPAT ( Al Manzilatu bainal Manziltaini)
Karena prinsip ini,wasil bin atha’ memisahkan diri dari majlis hasan basri yang pada akhirnya menyebabkan lahirnya istilah mu’tazilah yang setelah waktu berkembang menjadi nama golongan atau aliran.
Prinsip “ di antara dua tempat” ini pada dasarnya merupakan pembahasan seputar tahkim terhadap pelaku dosa besar.Menurut pendapat wasil bin atha’ pelaku dosa besar selain syirik,bukan lagi menjadi orang mukmin(murji’ah)dan bukan pula menjadi orang kafir (khawarij)melainkan menjadi orang fasik.jadi kefasikan merupakan tempat tersendiri antara kufur dan iman.tingkatan seorang fasik berada dibawah orang mukmin dan di atas orang kafir.pendapat ini juga beda dengan pendapat hasan basri yang mengatakan bahwa peelaku dosa besar di hukumi munafik.
Jalan tengah ini yang juga berlaku pada bidang yang lain,diambil oleh aliran mu’tazilah dari beberapa sumber,antara lain :
• Al Qur’an : surat Al Isra’ ayat 31 & 110 / surat Al Baqarah ayat 137
• Hadist :seperti “ chairul umuri ausathuha” sebaik baik perkara adalah yang tengah tengah.
• Kata kata :hikmah dari cendekiawan islam,seperti perkatan sayyidina Ali R A “ Kun fiddunia wasathan “jadikan kamu dalam dunia ini tengah tengah.
Sumber lain dari prinsip ini adalah filsafat yunani,antara lain Aristoteles yang terkenal dengan teori jalan tengah emas (Golden means )
Dengan dasar sumber sumber keislaman dan sumber yunani tersebut,maka aliran mu’tazilah lebih memperdalam pemikirannya tentang jalan tengah tersebut, sehingga menjadi prinsip dalam lapangan berpikir (rasio) dan akhlaq (etika ) dan menjadi landasan berfilsafat,yang selalu menghendaki bersikap sedang (moderation) dalam segala hal.prinsip ini nampak jelas dalam usaha mereka mempertemukan agama dengan filsafat.

5.Memerintahkan kebaikan dan mel;arang keburukan ( Al ‘amru bil ma’ruf wa An nahyu ‘anil munkari)
Ajaran dasar yang kelima adalah amar ma’ruf nahi munkar.ajaran ini menekankan keberpihakan kepada kebenaran dan kebaikan.ini merupakan konsekwensi logis dari keimanan seseorang.pengakuan keimanan seseorang harus di buktikan dengan perbuatan baik,yang salah satu diantaranya adalah menyuruh orang berbuat baik dan melarangnya berbuat buruk.
Sumber sumber dari prinsip ini antara lain terdapat dalam :
* Al Qur’an : surat Ali Imran ayat 104 dan surat Luqman ayat 17.
*Al Hadist : sabda sabda Nabi S.A.W. yang antara lain :
“ man ro’a minkum munkaron fal yughayyir bi yadihi fain lam yastathi’ fa bi lisanihi fain lam yastathi’ fa biqolbihi,wadzalika adh’aful iman”
Sejarah pemikiran islam membuktikan betapa giatnya orang mu’tazilah mempertahankan islam terhadap kesesatan yang tersebar luas pada masa khilafat bani abbasiyyah yang hendak menghancurkan kebenaran kebenaran islam,bahkan mereka tak segan segan menggunakan kekerasan dalam melaksanakan prinsip tersebut,meskipun terhadap golongan islam sendiri.

1 komentar: